RSS

Category Archives: Drama

Yellow Flower

Hey..

Aku disini. Aku disini. Ingin kukatakan itu padamu terus menerus. Tak peduli kau nanti bosan mendengarnya. Tak peduli kau merasa terganggu.

Tapi percuma. Tidak mungkin aku mengatakannya seperti dahulu.

Hey, sadarkah kau, berpuluh kali kuletakkan mawar kuning di mejamu? Pernahkah sekalipun kau menyadarinya?

Kau hanya tersenyum ketika aku meletakkan mawar merah untukmu. Hey, lihatlah kelopak-kelopak mawar merah disana! Mulai berguguran satu per satu karena kau lupa menjaganya. Pudar.

Warna kuning nampaknya menjadi khas kita.

Aku telah meletakkan untukmu mawar kuning. Kau tak menggubrisnya.

Aku memberimu sebuket tulip kuning, kau pun meremehkannya. Hey!

Angin bulan Agustus tahun ini dingin. Menyesakkan ulu hatiku yang memang rapuh ini. Hey.. Masihkah kau menghiraukan aku?

Sampai akhirnya anyelir kuning.. aku bahkan tak tahu harus mengatakan apa jika kau mengatakan sesuatu setelah aku memberikanmu ini.

Tidak. Bukan ini yang kuinginkan.

Perih.

Bukan aku yang ingin mengakhiri semua ini, tapi karena kau–dirimu yang dulu tak lagi berjalan bersamaku.

 
Leave a comment

Posted by on August 18, 2011 in Burden, Diary, Drama, Fanfiction

 

Menunggumu, Yang Duduk di Bawah Pohon Itu

‘Hei! Lihatlah aku disini!’

Sepotong kalimat itu benar-benar ingin kuteriakkan pada sosok pemuda yang jauh disana, duduk di bawah sebatang pohon sakura. Masih dengan mata ragu, aku menatapnya–mencoba mencari setitik harapan di mata onix-nya yang tajam itu. Angin berhembus pelan, menerbangkan kelopak-kelopak sakura yang indah itu. Beruntung sekali ya, mereka. Terbang bersama dengan kelopak-kelopak cerah di bawah sinar matahari yang cerah—meski tak terik, bersama.

Ugh..

Kurasakan hatiku berdenyut nyeri, melihat sosok itu berdiri dan menjauh. Ah, tidak. Bukan itu. Tangan kirinya digamit oleh seorang gadis penuh senyuman. Kenapa ia pergi dengannya? Kekasihnya kah? Mengapa aku tidak tahu, padahal aku selalu melihatnya dari jauh?

‘Hei! Aku disini!’

Tetap saja, kalimat itu terpaku rapat di memoriku. Tapi mulutku selalu saja enggan meneriakkannya. Aku menunduk, menyadari bahwa ia tak mungkin menyadari keberadaanku disini, selalu berakhir begini. Bunga sakura terus menerus berjatuhan, ia dan teman-temannya menjadi saksi bisu ketika seorang dengan raut wajah terluka memalingkan diri dan berjalan berlawanan arah dengan pemuda yang diamatinya tadi. Ya, sosok itu aku.

Mungkinkah, suatu saat ia menyadari perasaanku padanya?

Mungkinkah, suatu saat ia membalas perasaanku?

Ah.. rasanya tidak. Kami begitu jauh. Ia terlampau jauh, tak tergapai olehku. Tak tercapai, terlalu jauh–ya, kukatakan itu sekali lagi.

Panas matahari menyengat. Pantai-pantai mendeburkan ombaknya, menjadi tempat berlibur yang menyenangkan. Jalanan tempat biasa aku lewat sungguh gersang. Debu-debu berterbangan membuat pernafasanku kacau, sesak. Tak terasa musim panas sudah mencapai pertengahan. Tak banyak yang berubah. Atau bahkan mungkin tidak ada. Pemuda itu, masih sering di sana. Di bawah pohon sakura yang bahkan sudah gugur semua bunganya. Ah, lagi-lagi aku hanya bisa melihat dari jauh. Selalu begini, selalu tak pernah berani melihatnya dari dekat.

‘Hei! Lihat! Aku disini!’

Aku menggigit bibir bagian dalamku. Miris. Sekali lagi, aku harus puas meliriknya dari kejauhan. Aku meringis, rasanya sesak sekali dada ini menahan perasaanku. Kulihat dari ekor mataku, ia berdiri. Gadisnya telah mengulurkan tangan padanya–dan ia menerimanya. Angin semilir. Kurasakan diriku mulai hancur, terluka. Aku mendesis.

Ugh..

Aku berbalik, cukup sampai disini pemandangan yang kulihat tadi. Perih. Kupejamkan mataku kuat-kuat.

Sampai akhirnya kusadari sesuatu.

Air mataku sudah mulai merembes.

 
Leave a comment

Posted by on August 11, 2011 in Drama, Fanfiction

 

Tags: , , ,