RSS

Category Archives: Diary

Untitled Mood

Iseng, tadi Cact obrak-abrik koleksi foto dan video di Lappy-chan. Lumayanlah, nemu folder isinya foto-foto masa SMP teman-teman tersayang. Well, cuma teman-teman sih, Cact ‘kan jarang banget ikut event-event bikinan temen-temen seperti: makan-makan di resto, jalan-jalan ke telaga/air terjun, dan sebagainya.

Tapi, nih, paling ngga Cact selalu dapet arsip-arsip foto mereka. *peluk foto temen-temen*

Sampai akhirnya, folder terbaru, Graduation. ^o^ Momen puncak yang ditunggu-tunggu semua siswa. Mengharukan lihat foto-foto temen.

Baru kemudian Cact nyadar, “Lho? Cact mana? kok dikit banget fotonya?” kelewat narsisnya kumat deh—ah, ngga juga. Memang sedikit banget fotonya Cact disana. Hanya satu atau dua.

Untunglah, hari ini Paralia pinjemin FD-nya dia ke Cact. Yey~ Akhirnya bisa lihat-lihat foto-foto Cact yang-astaga-agak-keterlaluan narsisnya. 😀

Ah… rasanya bernostalgia sekali, melihat bangunan sekolah lewat foto. Patung Lonceng depan sekolah, papan 9 K (hahaha..), kelas MORFIN 7,8, dan 9 😥 (Ya ampuun.. mendadak Cact kangen sekali dengan anak-anak MORFIN) dan juga foto-foto di atap sekolah.

Menyenangkan 🙂

Ah.. nampaknya hari sudah terlalu larut malam. Cact harus segera tidur agar bisa bangun untuk sahur besok. Yah.. meski belom sempat chat dengan cowo-nya Cact sih.

Anyway, Cact melambaikan tangan pada semuanya, bersiap menarik selimut dan tidur.

“I love you a lot, Kiki-kun :)”

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on August 18, 2011 in Diary, Photos

 

Tags: , , ,

Yellow Flower

Hey..

Aku disini. Aku disini. Ingin kukatakan itu padamu terus menerus. Tak peduli kau nanti bosan mendengarnya. Tak peduli kau merasa terganggu.

Tapi percuma. Tidak mungkin aku mengatakannya seperti dahulu.

Hey, sadarkah kau, berpuluh kali kuletakkan mawar kuning di mejamu? Pernahkah sekalipun kau menyadarinya?

Kau hanya tersenyum ketika aku meletakkan mawar merah untukmu. Hey, lihatlah kelopak-kelopak mawar merah disana! Mulai berguguran satu per satu karena kau lupa menjaganya. Pudar.

Warna kuning nampaknya menjadi khas kita.

Aku telah meletakkan untukmu mawar kuning. Kau tak menggubrisnya.

Aku memberimu sebuket tulip kuning, kau pun meremehkannya. Hey!

Angin bulan Agustus tahun ini dingin. Menyesakkan ulu hatiku yang memang rapuh ini. Hey.. Masihkah kau menghiraukan aku?

Sampai akhirnya anyelir kuning.. aku bahkan tak tahu harus mengatakan apa jika kau mengatakan sesuatu setelah aku memberikanmu ini.

Tidak. Bukan ini yang kuinginkan.

Perih.

Bukan aku yang ingin mengakhiri semua ini, tapi karena kau–dirimu yang dulu tak lagi berjalan bersamaku.

 
Leave a comment

Posted by on August 18, 2011 in Burden, Diary, Drama, Fanfiction

 

ARGH! This is Frustrating

Duh. Aku kembali menatap layar laptop kesayanganku ini dengan pandangan bodoh. Ya, aku sudah bertanya pada Kuko-chan tentang PR yang diberikan guru hari Sabtu lalu. Pasalnya aku tidak masuk sekolah waktu itu, dan mau tak mau harus menanyakan PRnya yang mana. Jemariku mengetik lagi.

APAAA???!! PRnya sebanyak itu? Yang benar saja, hey!

Matematika, Kimia, Biologi dan tambahan pribadi, Seni Budaya.

Oh tidaaaaaak! Argh! Keinginanku bermalas-malasan hari Minggu ini nampaknya mulai memudar sedikit demi sedikit. Mengesalkan.

Dari dapur kudengar teriakan Mam, “Cepat urusi baju-bajumu dan cuci!”

Rasanya lemas sekali tubuh ini seketika itu. Ah. lebih baik aku mencoba mengerjakan PR terlebih dulu. Bisa gawat kalo terlambat mengerjakan apalagi sampai tak bisa mengumpulkan. Oke, pertanyaan pertama..

EH??!! Apa ini?

‘Jelaskan teknik mutasi buatan!’

hah? Itu… aku belum dijelaskan soal itu! Yang benar saja!

Yang benar saja! Yang benar saja! PR lain pun bernada serupa.

ARGH! Aku tak tahu lagi nasib pagiku yang awalnya sempurna ini…

 
Leave a comment

Posted by on August 7, 2011 in Diary, Fanfiction, Stressed Mind

 

Tags: , ,

Another Story : Memory

Tatan membuka pintu kamarnya. Sedikit terkejut melihat siluet seseorang di luar sana dari balik jendela. Sosok itu berjalan menjauh. Tatan buru-buru menuju jendela kacanya, mengetuknya tiga kali.

Dan sosok itu menoleh.

”Kakak..” bisiknya.

Orang yang berseberangan dengannya sedikit tersenyum. Tatan mendadak sadar kalau wajahnya pastilah luar biasa berantakan sehabis menangisi hatinya yang hancur berkeping keping. Belum lagi plester turun panas yang terbalut tak rapi di dahinya.

”Hm? Kamu kenapa? Apa ada sesuatu?” Tatan melonjak terkaget. Suara kalem sang kakak baru saja menyadarkannya.

Kakaknya menelengkan kepala. Mendekat ke jendela kaca rapat yang membatasinya dari Tatan. Mata hitam beningnya seolah membuat Tatan tersenyum.

Dan Tatan memang tersenyum.

”Um.. tidak.. Tidak ada apa-apa kok, Kak.” jawabnya buru-buru dengan sebuah senyum dipaksakan. Sang kakak mengangkat bahu, seolah membiarkan kejadian itu berlalu begitu saja.

”Ya sudah. Tapi kalau ada apa-apa beritahu aku. Ah, ya. Kalau kamu mencariku, aku di rumah Eyang sore ini.” Senyumnya. Ia berlalu dari sana—dari jendela.

Tatan menatapnya.

Ia menatap punggung sang kakak yang semakin menjauh.

Perlahan, ia menyentuhkan telunjuknya pada kaca jendela, terasa sedingin es. Tatan menunduk, menatap lantai yang berlapis karpet hijau. Ekspresi wajahnya perlahan berubah, keruh.

”Onii-sama..”

Detik itu juga ia membelakangi jendela dengan air mata yang mulai jatuh membasahi pipinya.

 
Leave a comment

Posted by on August 4, 2011 in Diary, Fanfiction

 

Tags: , , , ,