RSS

Ikatan

01 Sep

Dalam sebuah romansa sederhana keluarga, teman, dan cinta, tentunya kau pernah mendengar apa itu sebuah ikatan. Suatu yang menyatukanmu satu sama lain dalam hubungan jelas dan diakui orang lain di sekitarmu. Tentunya, ikatan yang kau tempuh bukanlah sekedar klaim sepihak yang dengan egois dideklarasikan oleh atau kepada orang yang mengikat atau kau ikat saat ini. Ikatan sederhana, namun nyata tentulah tentunya lebih simpel dan menyegarkan untuk dijalani sehari-hari. Sayangnya, tak menutup kemungkinan suatu saat ikatan sederhana yang kuat itu akan rapuh, lekang termakan usia ikatan itu sendiri. Tiada yang salah. hanya saja…

“Kakak, dimana?”

.. perasaan sendu kala ikatan itu tak terlihat lagi menjadi hal paling rumit dibanding ikatan palsu penuh metafora didalamnya. Ingatan-ingatan akan ikatan yang telah berlalu menyerobot, terburu-buru merasuki ruang hampa sang hati yang bahkan kadang lupa akan adanya ikatan yang bahkan sebelumnya dibuatnya sendiri.

Sendu hanyalah kata biasa.

Namun memorimulah yang berharga. Memori tentang ikatan-ikatan berharga, yang hingga kini kau harap takkan pernah berubah dari waktu ke waktu. memori yang bahkan menghantui tiap tidurmu yang nyenyak di malam hari walau sebenarnya ia seharusnya menghiburmu lewat kilasan-kilasan film tentang ikatanmu, dan memperlihatkannya padamu dengan ke-elegananya.

Sendu hanyalah kata biasa.

Ikatan itulah yang terpenting. Kala puluhan buket mawar merah tertata apik di kamarmu, tentu saja hadiah dari seseorang dan lebih logis lagi, beberapa orang yang menyukaimu, dan berharap bisa melewatkan sedetik kisah denganmu. Kala puluhan surat dan e-mail menyerobot kotak masukmu di depan rumah maupun di dunia maya. Kala kelasmu menjadi ramai, dan kau bahkan sudah merasa terlalu kesal untuk sekedar berteriak kepada kawanmu untuk diam barang sejenak.

Kala kau memilih seseorang, dibanding jutaan orang berlawan gender denganmu.

Dan mengikatnya denganmu.

“Hei, kakak. Kita akan bertemu kembali disini kan? Janji?”

Kala sebuah janji menjadi setitik harapan terakhir saat kau tak lagi sanggup menemuinya, memeluknya, menenangkannya saat ia menangis. Dan disaat itu terjadi, dua orang insan akan berharap, berharap janji itu nyata. Angan yang terlalu jauh. Bahkan untuk sebuah ikatan tipis yang tak henti-hentinya menjelang pudar dan kembali terlihat.

Tak ada ikatan yang tak kuat.

Hanya saja, masihkan kedua insan itu menunggu?

Masihkah keduanya berharap? Atau mungkin harapan itu terlalu mengakar kuat di dalam diri sehingga mereka bahkan tak tahu caranya melupakan barang sejenak?

“Kakak.. aku rindu.”

.

.

.

tsuzuku

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on September 1, 2012 in Fanfiction, Stressed Mind, Uncategorized

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: