RSS

Monthly Archives: September 2011

Under The Breezy Wind

Jingga senja mulai memenuhi langit biru cerah musim panas ini. Lentera-lentera lampu mulai menyala, menerangi kota bagai disihir dengan cahaya warna-warni yang menghangatkan hati. Angin sejuk sesekali berhembus pelan meniup rambutmu ketika duduk di bangku di bawah pohon akasia itu.

Kamu menunduk, sesekali mencengkeram pinggiran bangku dengan tangan pucat mungilmu. Kamu mengangkat wajahmu, menengok samping kanan dan kiri–nihil. Tak ada siapapun kecuali dirimu. Lagi, kamu menunduk. Menunduk dalam-dalam sambil menghela nafas panjang.

Kamu bertahan disana. Sendiri dan kesepian, berharap seseorang mau datang dan berbincang denganmu. Kamu mengela nafas lagi. Tidak ada yang melirikkan pandangannya ke tempatmu duduk. Kamu mengambil novelmu dari dalam tas abu-abu yang setia menemanimu sedari tadi. Kamu membaca halamannya satu per satu diiringi gemerisik dedaunan yang tertiup angin. Sesekali kamu menyibakkan anak rambut yang jatuh ke wajahmu, menghalangi konsentrasi membacamu.

Padahal kamu sendiri tahu, kamu melakukannya untuk mengusir kesepian tak bertepimu.

Lagi-lagi kamu menghela nafas panjang.

Mendadak, punggungmu menegak mendengar suara khas langkah kaki mendekat padamu. Kamu menolehkan kepalamu, berusaha mencari sumber suara langka itu. Kamu menemukannya.

Seorang pemuda yang terlihat seusia denganmu dengan rambut pendek acak-acakan dan seragam tak rapi melangkah ke arahmu. Kamu sedikit ketakutan merasakan auranya yang gelap–tak ramah. Kamu mencoba mengabaikannya. Kau buka kembali novel yang entah kapan sudah kau tutup itu. Gugup, kamu memaksakan diri membaca–ah, bukan–melihat kalimat-kalimat manis disana.

Kamu sepenuhnya menyadari, tatapan pemuda tadi mengarah padamu.

Dan kamu sepenuhnya menyadari, ketika pemuda itu mengucapkan–

“Hai! Kau senang duduk-duduk disini waktu sore begini ya?”

–salam ramah namun straight foward padamu.

Kamu mengangkat kepalamu dari novelmu dan menatapnya. Beberapa detik kamu terpaku, sebelum akhirnya kamu tersenyum hangat pada pemuda itu. Ia membalas senyummu–hangat. Jauh berbeda dari kesan urakan yang ditimbulkan oleh penampilannya. Ia menghempaskan dirinya, ikut duduk di bangku yang sama denganmu. Sejenak matamu melebar, menyadari kamu duduk bersama seorang laki-laki di taman–hanya berdua. Pertama kalinya rona merah muda menyeruak di antara tulang pipimu. Kamu menundukkan wajahmu–malu.

Sementara itu, pemuda di sebelahmu tengah memandang awan berarakan di langit sana. Tak lama berselang, matanya terpejam seiring hembusan angin mulai bertiup ringan, membuat rambutnya makin teracak tidak karuan–terlalu berantakan. Kamu tersentak ketika pemuda itu membuka matanya dan mendadak menatapmu yang terpesona–dan memandangnya sedari tadi, tentu saja.

Wajahmu kembali memerah.

Tsuzuku

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on September 3, 2011 in Fanfiction