RSS

Monthly Archives: August 2011

Untitled Mood

Iseng, tadi Cact obrak-abrik koleksi foto dan video di Lappy-chan. Lumayanlah, nemu folder isinya foto-foto masa SMP teman-teman tersayang. Well, cuma teman-teman sih, Cact ‘kan jarang banget ikut event-event bikinan temen-temen seperti: makan-makan di resto, jalan-jalan ke telaga/air terjun, dan sebagainya.

Tapi, nih, paling ngga Cact selalu dapet arsip-arsip foto mereka. *peluk foto temen-temen*

Sampai akhirnya, folder terbaru, Graduation. ^o^ Momen puncak yang ditunggu-tunggu semua siswa. Mengharukan lihat foto-foto temen.

Baru kemudian Cact nyadar, “Lho? Cact mana? kok dikit banget fotonya?” kelewat narsisnya kumat deh—ah, ngga juga. Memang sedikit banget fotonya Cact disana. Hanya satu atau dua.

Untunglah, hari ini Paralia pinjemin FD-nya dia ke Cact. Yey~ Akhirnya bisa lihat-lihat foto-foto Cact yang-astaga-agak-keterlaluan narsisnya. 😀

Ah… rasanya bernostalgia sekali, melihat bangunan sekolah lewat foto. Patung Lonceng depan sekolah, papan 9 K (hahaha..), kelas MORFIN 7,8, dan 9 😥 (Ya ampuun.. mendadak Cact kangen sekali dengan anak-anak MORFIN) dan juga foto-foto di atap sekolah.

Menyenangkan 🙂

Ah.. nampaknya hari sudah terlalu larut malam. Cact harus segera tidur agar bisa bangun untuk sahur besok. Yah.. meski belom sempat chat dengan cowo-nya Cact sih.

Anyway, Cact melambaikan tangan pada semuanya, bersiap menarik selimut dan tidur.

“I love you a lot, Kiki-kun :)”

 
Leave a comment

Posted by on August 18, 2011 in Diary, Photos

 

Tags: , , ,

Yellow Flower

Hey..

Aku disini. Aku disini. Ingin kukatakan itu padamu terus menerus. Tak peduli kau nanti bosan mendengarnya. Tak peduli kau merasa terganggu.

Tapi percuma. Tidak mungkin aku mengatakannya seperti dahulu.

Hey, sadarkah kau, berpuluh kali kuletakkan mawar kuning di mejamu? Pernahkah sekalipun kau menyadarinya?

Kau hanya tersenyum ketika aku meletakkan mawar merah untukmu. Hey, lihatlah kelopak-kelopak mawar merah disana! Mulai berguguran satu per satu karena kau lupa menjaganya. Pudar.

Warna kuning nampaknya menjadi khas kita.

Aku telah meletakkan untukmu mawar kuning. Kau tak menggubrisnya.

Aku memberimu sebuket tulip kuning, kau pun meremehkannya. Hey!

Angin bulan Agustus tahun ini dingin. Menyesakkan ulu hatiku yang memang rapuh ini. Hey.. Masihkah kau menghiraukan aku?

Sampai akhirnya anyelir kuning.. aku bahkan tak tahu harus mengatakan apa jika kau mengatakan sesuatu setelah aku memberikanmu ini.

Tidak. Bukan ini yang kuinginkan.

Perih.

Bukan aku yang ingin mengakhiri semua ini, tapi karena kau–dirimu yang dulu tak lagi berjalan bersamaku.

 
Leave a comment

Posted by on August 18, 2011 in Burden, Diary, Drama, Fanfiction

 

Menunggumu, Yang Duduk di Bawah Pohon Itu

‘Hei! Lihatlah aku disini!’

Sepotong kalimat itu benar-benar ingin kuteriakkan pada sosok pemuda yang jauh disana, duduk di bawah sebatang pohon sakura. Masih dengan mata ragu, aku menatapnya–mencoba mencari setitik harapan di mata onix-nya yang tajam itu. Angin berhembus pelan, menerbangkan kelopak-kelopak sakura yang indah itu. Beruntung sekali ya, mereka. Terbang bersama dengan kelopak-kelopak cerah di bawah sinar matahari yang cerah—meski tak terik, bersama.

Ugh..

Kurasakan hatiku berdenyut nyeri, melihat sosok itu berdiri dan menjauh. Ah, tidak. Bukan itu. Tangan kirinya digamit oleh seorang gadis penuh senyuman. Kenapa ia pergi dengannya? Kekasihnya kah? Mengapa aku tidak tahu, padahal aku selalu melihatnya dari jauh?

‘Hei! Aku disini!’

Tetap saja, kalimat itu terpaku rapat di memoriku. Tapi mulutku selalu saja enggan meneriakkannya. Aku menunduk, menyadari bahwa ia tak mungkin menyadari keberadaanku disini, selalu berakhir begini. Bunga sakura terus menerus berjatuhan, ia dan teman-temannya menjadi saksi bisu ketika seorang dengan raut wajah terluka memalingkan diri dan berjalan berlawanan arah dengan pemuda yang diamatinya tadi. Ya, sosok itu aku.

Mungkinkah, suatu saat ia menyadari perasaanku padanya?

Mungkinkah, suatu saat ia membalas perasaanku?

Ah.. rasanya tidak. Kami begitu jauh. Ia terlampau jauh, tak tergapai olehku. Tak tercapai, terlalu jauh–ya, kukatakan itu sekali lagi.

Panas matahari menyengat. Pantai-pantai mendeburkan ombaknya, menjadi tempat berlibur yang menyenangkan. Jalanan tempat biasa aku lewat sungguh gersang. Debu-debu berterbangan membuat pernafasanku kacau, sesak. Tak terasa musim panas sudah mencapai pertengahan. Tak banyak yang berubah. Atau bahkan mungkin tidak ada. Pemuda itu, masih sering di sana. Di bawah pohon sakura yang bahkan sudah gugur semua bunganya. Ah, lagi-lagi aku hanya bisa melihat dari jauh. Selalu begini, selalu tak pernah berani melihatnya dari dekat.

‘Hei! Lihat! Aku disini!’

Aku menggigit bibir bagian dalamku. Miris. Sekali lagi, aku harus puas meliriknya dari kejauhan. Aku meringis, rasanya sesak sekali dada ini menahan perasaanku. Kulihat dari ekor mataku, ia berdiri. Gadisnya telah mengulurkan tangan padanya–dan ia menerimanya. Angin semilir. Kurasakan diriku mulai hancur, terluka. Aku mendesis.

Ugh..

Aku berbalik, cukup sampai disini pemandangan yang kulihat tadi. Perih. Kupejamkan mataku kuat-kuat.

Sampai akhirnya kusadari sesuatu.

Air mataku sudah mulai merembes.

 
Leave a comment

Posted by on August 11, 2011 in Drama, Fanfiction

 

Tags: , , ,

ARGH! This is Frustrating

Duh. Aku kembali menatap layar laptop kesayanganku ini dengan pandangan bodoh. Ya, aku sudah bertanya pada Kuko-chan tentang PR yang diberikan guru hari Sabtu lalu. Pasalnya aku tidak masuk sekolah waktu itu, dan mau tak mau harus menanyakan PRnya yang mana. Jemariku mengetik lagi.

APAAA???!! PRnya sebanyak itu? Yang benar saja, hey!

Matematika, Kimia, Biologi dan tambahan pribadi, Seni Budaya.

Oh tidaaaaaak! Argh! Keinginanku bermalas-malasan hari Minggu ini nampaknya mulai memudar sedikit demi sedikit. Mengesalkan.

Dari dapur kudengar teriakan Mam, “Cepat urusi baju-bajumu dan cuci!”

Rasanya lemas sekali tubuh ini seketika itu. Ah. lebih baik aku mencoba mengerjakan PR terlebih dulu. Bisa gawat kalo terlambat mengerjakan apalagi sampai tak bisa mengumpulkan. Oke, pertanyaan pertama..

EH??!! Apa ini?

‘Jelaskan teknik mutasi buatan!’

hah? Itu… aku belum dijelaskan soal itu! Yang benar saja!

Yang benar saja! Yang benar saja! PR lain pun bernada serupa.

ARGH! Aku tak tahu lagi nasib pagiku yang awalnya sempurna ini…

 
Leave a comment

Posted by on August 7, 2011 in Diary, Fanfiction, Stressed Mind

 

Tags: , ,

Another Story : Faith [pt. 3]

Senja makin turun, sementara itu masih ada seorang paramedis yang tetap tinggal diruangannya meskipun rekan-rekannya sudah beranjak pulang termasuk Shishou-nya. Ia masih terpikir dengan ingatannya tadi. Rasanya seperti kembali ke masa lalu setelah semua yang terjadi. Ia tersenyum ketika mengeluarkan selembar foto dan menatapnya. Sungguh, apapun yang ada di dunia ini tidak bisa ditebak. Tapi, mengingat kenyataan pahit itu, ia cuma bisa menunduk dalam-dalam sembari terus mencegah air matanya agar tidak keluar lagi. Ia merasakan sakit, sakit yang amat menusuk ulu hatinya. Sakit yang terus dan selalu menyerangnya tiap kali ia mengingat hal itu. Terlalu menyedihkan memang, namun ia nyaris selalu bersemu merah tiap kali menangis, menangisi dia yang tidak kunjung memberi jawaban atas pertanyaannya yang sederhana namun agaknya sulit dijawab di masa lalu. Tapi masalahnya bukan itu, ia hanya menginginkan dia pulang. Bahkan dia tidak peduli kalau harus kehilangan dia. Paling tidak, yang diinginkannya, ia bisa melihat wajah yang sudah memikat hatinya itu, sekali lagi atau berkali-kali lagi.

Hatinya mendadak resah setelah menelusuri foto lama mereka. Bagaimana keadaannya sekarang?

Hey, can you hear it? Memories are wandering around…
Hey, trust the heart as long as we live!
Even if the world we live in is different…
As long as there’s something to protect…
For whom do you reach out your right hand for?

Fin

 
Leave a comment

Posted by on August 4, 2011 in Fanfiction

 

Tags: , , ,

Another Story : Faith [pt. 2]

”Imouto.. ” serunya tertahan. Memorinya yang sempat mengalir di otaknya terhenti sejenak begitu adiknya muncul. Adiknya yang juga paramedis seperti dia, tersenyum balik. Well, diruangan itu memang penuh dengan paramedis-paramedis yang sedang istirahat dari tugas, tak terkecuali Ruuki yang mengajak senpai-nya tadi bicara sedikit.

Ruuki ikut tersenyum. ”Aa… Nagi-chan, ohayou gozaimasu. Apa kabar?” tanyanya langsung. Wajar ia gembira begitu melihat wajah teman mantan satu sekolahnya itu pulang dari dinas di daerah lain. Ia kelihatan sangat riang secara mendadak.

Gadis muda yang disapa tadi mengangguk sopan. ”Baik Ruuki-chan—atau aku masih boleh memanggilmu ’Rucchan’?”

Keduanya tergelak bersama. Ruuki sampai mengusap matanya yang berair saking hebohnya mereka tertawa. Wajahnya sedikit memerah seperti Nagisa yang sudah mengambil tempat duduk di sebelahnya. Ruuki langsung berhenti tertawa begitu menyadari ada yang janggal dengan keadaan hari ini.

”Nagi-chan, lihat..” bisiknya tertahan pada Nagisa. ”—senpai sepertinya teringat sesuatu..” katanya. Nagisa menoleh. Dan ia segera tahu apa yang dikatakan Ruuki ada benarnya. Kakaknya sedang bersedih. Itu terlihat dari raut wajahnya yang keruh.

Nagisa menggelengkan kepalanya. ”Kau benar, Rucchan. Oh—apa yang harus kita lakukan?” tanyanya pada Ruuki yang segera disambut gelengan kepala. Sekarang giliran Nagisa yang menarik nafas panjang-panjang. Kakaknya orang yang tegar. Dia tahu betul tentang itu. Tapi, coba pikirkan, ia cuma sekali melihat kakaknya dalam keadaan seperti ini. Ya, pada saat orang itu pergi.

Jangan-jangan Oneesama-nya teringat pada dia. Nagisa tidak mampu bertahan di ruangan itu saking sesaknya udara yang ada disana. Perasaannya mengatakan ini adalah hal buruk. Dan akan semakin buruk kalau dia masih di sana. Karena itu ia terburu-buru menyeret Ruuki keluar dari ruangan kakaknya yang sekaligus merupakan senpai-nya Ruuki, sahabat karibnya.

”Aduuh, tidak usah menyeretku kenapa sih?” protesnya begitu mereka ada di luar ruangan. Tentu saja Ruuki protes karena dengan sangat santai Nagisa benar-benar menyeretnya. Kakinya sampai tergores-gores.

Nagisa tersenyum kecut. Tak lama, ia lalu mengajak Ruuki duduk di bangku taman. Sambil menyodorkan sekaleng minuman soda, ia menggumamkan kata maaf untuk sahabatnya. Mungkin Ruuki belum menyadari akan suatu fakta yang kiranya penting.

”Ruuki-chan—” katanya. Ruuki menyeritkan dahinya sampai poni cokelatnya tersibak. Tidak biasanya Nagisa memanggilnya dengan bahasa yang sedikit formal seperti yang dilakukannya saat ini. Ruuki menegakkan kepalanya. ”—apa kau merasa ada yang aneh dengan Oneesama akhir-akhir ini? Tolong jawab dengan jujur. Bisa jadi ini sangat penting.” bisiknya disertai penekanan yang lebih tegas pada suku kata terakhir. Ruuki mengangkat sebelah alisnya, heran.

”Yeah, kurasa, senpai memang agak aneh sejak dua hari yang lalu. Kau tahu? Melamun seperti tadi, sampai-sampai ditegur oleh Shishou. Menurutmu apa yang menyebabkannya jadi seperti ini?” tanya Ruuki. Kelihatan sekali kalau dia sebenarnya sangat penasaran dengan arah pertanyaan Nagisa yang menjurus pada penyelidikan. ”Jangan ragu. Bicaralah. Dulu kan kita satu tim, apalagi kita kan sahabat, jadi percayalah padaku.” lanjutnya lagi.

Sahabatnya langsung menundukkan kepalanya, bingung mau bicara dari mana. Akhirnya iapun membuka mulutnya, hendak berbicara tapi tidak jadi. Dia justru mendekat ke telinga Ruuki dan membisikkan sesuatu. Entah apa yang dibisikkannya sehingga Ruuki terlihat kaget.

”Masa sih? Senpai menyukai orang itu? Aku sih tidak terlalu heran, tapi orang itu kan sudah lama pergi. Yang kuherankan kenapa senpai masih menyukainya dan percaya padanya sampai sekarang. Bukankan itu sedikit aneh?” tanyanya dengan nafas berat. Wajahnya menunjukkan tanda-tanda tidak percaya tergambar disana. Meskipun begitu ia tetap mendengarkan Nagisa melanjutkan pembicaraan mereka.

“Yeah, aku juga kurang percaya sejujurnya. Tapi kalau dicocokkan dengan keresahan Oneesama dan hubungannya dengan orang itu semuanya jadi pas. Semua orang yang ditolak orang itu memang jadi patah hati, tidak terkecuali senpai yang itu—” jelasnya sambil menunjuk seseorang berambut pirang panjang yang berjalan di koridor depan rumah sakit. “—tapi Oneesama, kau tahu tidak? Dia tidak diterima, juga tidak ditolak. Pasti menyebalkan sekali kalau aku yang jadi Oneesama, sudah aku injak-injak kepalanya.” Serunya geram. Bahkan tangannya ikut-ikutan geram. Ruuki tampak berpikir dalam.

Tiba-tiba ia menatap Nagisa, “Bagaimana kalau kita selidiki lebih dalam? Kurasa itu akan membantu. ” usulnya setelah beberapa saat suasana sunyi. Angin berhembus perlahan. Nagisa berpikir sejenak sampai kemudian ia menggelengkan kepala. Tanda tidak setuju dengan usul Ruuki yang dianggapnya tidak sopan. Tentu saja ia berpikir tidak sopan, karena kata ‘selidiki’ saja menurutnya bermakna menguntit, dan itu tidak sopan, melanggar privasi orang lain.
“Huh? baiklah. Toh itu masalah pribadi senpai, dan kita layaknya tidak turut ikut campur didalamnya. Aku benar kan?” serunya riang. Ruuki terlihat sudah melupakan sama sekali masalah yang mendera senpainya hanya dengan kata-katanya tadi.

Nagisa terlihat mengangguk. “Yeah, tentu saja kau benar. Ah! sudah sore, aku harus pulang. Nah, mata ne, Rucchan.” pamitnya sembari berdiri dan membungkuk. Hari memang benar-benar sore ketika itu. Dan tentunya Nagisa ingin beristirahat di kamarnya setelah tugasnya yang melelahkan di luar kota. Ruuki yang juga lelah memutuskan untuk pulang saja dari pada harus lembur kembali malam ini. Keduanya saling melambaikan tangan. Lalu berpisah di persimpangan jalan karena rumah mereka berlawanan arah.

 
Leave a comment

Posted by on August 4, 2011 in Fanfiction

 

Tags: , , ,

Another Story : Faith [pt. 1]

Dia percaya. Sangat percaya. Kalau suatu saat dia akan kembali.

Waktu memang kejam. Tapi, dia tidak pernah berpikir adanya waktu. Hanya ada dia di dalam pikirannya. Dan dia menghilang secara misterius di bawah bulan purnama. Ia sendiri masih ingat bagaimana ia mati-matian mencegahnya pergi tepat beberapa menit sebelum ia menghilang.
Ia menangis. Tapi bukan karena pekerjaannya sebagai paramedis. Ia teringat olehnya. Dan mengingat kembali wajah tampannya selalu membuatnya menangis. Menyesal, karena tidak mampu mencegahnya pergi. Ia ingat betul pada saat itu, mata hitamnya yang setajam elang menatapnya dengan pandangan redup, tidak seperti biasanya yang penuh keangkuhan.

Setetes air mata mengalir di pipi tirusnya. Matanya terpejam kuat-kuat. Kapan dia akan kembali?

Disekanya lelehan itu. Ia tetap ingin terlihat tegar. Ia.. begitu merindukannya. Bahkan akhir-akhir ini ia selalu bermimpi bertemu dengannya. Setiap kali ia terbangun, hal pertama yang dilihatnya adalah foto itu. Ia selalu merasakan rindu yang membuncah tiap kali menatapnya. Mengapa ia pergi?
Ia berjalan menuju vending machine seberang jalan. Dimasukkannya selembar uang untuk membeli softdrink disana. Softdrink… menyadarkannya pada fakta itu. Dia tidak menyukai makanan manis! Yang ia tahu orang itu sangat menyukai tomat. Pandangan matanya meredup lagi seiring memorinya yang terus berkelebatan memenuhi otaknya.

Cklek

Seteguk. Ia sadar mungkin sekarang sudah terlambat untuk mengejarnya, tapi ia tetap optimis. Dia pasti akan kembali. Perlahan dia merogoh ponsel di pouch belakangnya. Fotonya yang sedang tertidur menghiasi layarnya. Juga beberapa foto lain yang semuanya nyaris tanpa ekspresi mengisi memori ponselnya. Ia senang sekaligus sedih.

Dua teguk. Ia bahkan baru menyadari hatinya sangat kosong setelah beberapa minggu dia pergi. Rasanya sakit sekali. Dimasukkannya kembali ponselnya. Ia lalu duduk di bangku rumah sakit yang tidak jauh dari sana. Tiga orang anak kecil—ah, empat sedang berlari-lari sepanjang koridor membuntuti diam-diam guru mereka yang rupanya ada disana. Ia tersenyum sedih. Rasanya seperti deja vu melihat kelakuan mereka. Tapi sekarang ada yang kurang. Dia tidak ada bersamanya. Dia sudah pergi.

Ia mengambil nafas panjang sebelum meneguk minuman ketiga kalinya.

Tidak ada dia. Hatinya hancur. Hidupnya berantakan. Tapi, sejak saat itu dia memiliki pekerjaan. Seorang paramedis. Dan dia terus berlatih dan melakukan yang terbaik sembari terus berharap ia akan kembali. Namun sayangnya, ia tidak—belum pernah kembali hingga sekarang. Dan itu yang paling membuatnya gundah luar biasa.

Empat teguk sebelum akhirnya ia melemparkan kalengnya yang masih agak penuh ke tong sampah. Ia tidak bisa terus-terusan terpuruk seperti ini. Tidak ada gunanya. Meski ia menangis sampai kolaps sekalipun, dia tidak akan mendengarnya. Dan bicara tentang tangisan, ia juga pernah menangis sendiri ketika dia ambruk ke pangkuannya sewaktu di hutan. Ia tidak dapat menahan senyumnya mengingat kejadian mengerikan sekaligus menyenangkan itu. Sejak saat itu ia jadi makin terobsesi dengan dia, meskipun dia sendiri harus bersaing diantara ratusan fans girls-nya.
Ia mulai berjalan menuju kursinya di sebelah kanan ruangan. Dihempaskannya tubuhnya begitu saja begitu tiba disana. Ia harus bekerja dan terus berusaha. Dan satu lagi yang selalu diingatnya; tidak boleh mencampur pekerjaan dan perasaan. Tapi, kejadian tadi membuatnya berpikir ulang. Kenapa ia sendiri begitu yakin?

Sudah tentu jawabannya adalah: karena dia terlalu mencintai orang itu.

Namun sekarang tidak berbeda dengan dulu. Hanya saja lebih sepi. Ia menghela nafas panjang-panjang sebelum menekuni dokumennya kembali. Diperiksanya lembar-lembar putih yang penuh dengan huruf, angka dan gambar itu. Masih seperti biasa. Pasiennya nyaris yang itu-itu saja. Ia menghela nafas panjang. Bukannya ia mengeluh, melainkan karena teringat lagi, dan lagi pada obyek yang sama. Dia…

”Senpai, ada masalah?” tegur seseorang di depannya. Raut wajahnya terlihat khawatir melihat sang senpai menangis tak berujung. Ia menarik kursinya sehingga menghadap meja senpainya.

Sang senpai menggelengkan kepala lalu memaksa tersenyum. “Daijoubu, Ruuki, Tidak apa-apa.” jawabnya sambil mengibaskan sebelah tangannya pada juniornya yang bernama Ruuki tadi. Sementara itu tangan yang lain diam-diam menghapus sisa-sisa air matanya. Ruuki bisa melihat gerakannya.

Ruuki menatapnya tidak yakin. “Kau tidak sedang tidak bermasalah, Senpai”, tukasnya yakin. Bagaimana tidak? Seseorang yang teliti seperti Ruuki melihat seseorang yang melamun, tiba-tiba berurai air mata, lalu mengambil nafas panjang, kemudian menangis lagi cukup membuat dia yakin kalau senpainya memang ada masalah.

Tapi, ia bersikeras meyakinkan Ruuki—sang junior, kalau ia baik-baik saja. Ruuki tidak memaksa. Seseorang dari belakang menepuk bahunya pelan. Ia terkejut, tapi kemudian tersenyum ramah begitu mengenalinya.

 
Leave a comment

Posted by on August 4, 2011 in Fanfiction

 

Tags: , , ,