RSS

Ikatan

Dalam sebuah romansa sederhana keluarga, teman, dan cinta, tentunya kau pernah mendengar apa itu sebuah ikatan. Suatu yang menyatukanmu satu sama lain dalam hubungan jelas dan diakui orang lain di sekitarmu. Tentunya, ikatan yang kau tempuh bukanlah sekedar klaim sepihak yang dengan egois dideklarasikan oleh atau kepada orang yang mengikat atau kau ikat saat ini. Ikatan sederhana, namun nyata tentulah tentunya lebih simpel dan menyegarkan untuk dijalani sehari-hari. Sayangnya, tak menutup kemungkinan suatu saat ikatan sederhana yang kuat itu akan rapuh, lekang termakan usia ikatan itu sendiri. Tiada yang salah. hanya saja…

“Kakak, dimana?”

.. perasaan sendu kala ikatan itu tak terlihat lagi menjadi hal paling rumit dibanding ikatan palsu penuh metafora didalamnya. Ingatan-ingatan akan ikatan yang telah berlalu menyerobot, terburu-buru merasuki ruang hampa sang hati yang bahkan kadang lupa akan adanya ikatan yang bahkan sebelumnya dibuatnya sendiri.

Sendu hanyalah kata biasa.

Namun memorimulah yang berharga. Memori tentang ikatan-ikatan berharga, yang hingga kini kau harap takkan pernah berubah dari waktu ke waktu. memori yang bahkan menghantui tiap tidurmu yang nyenyak di malam hari walau sebenarnya ia seharusnya menghiburmu lewat kilasan-kilasan film tentang ikatanmu, dan memperlihatkannya padamu dengan ke-elegananya.

Sendu hanyalah kata biasa.

Ikatan itulah yang terpenting. Kala puluhan buket mawar merah tertata apik di kamarmu, tentu saja hadiah dari seseorang dan lebih logis lagi, beberapa orang yang menyukaimu, dan berharap bisa melewatkan sedetik kisah denganmu. Kala puluhan surat dan e-mail menyerobot kotak masukmu di depan rumah maupun di dunia maya. Kala kelasmu menjadi ramai, dan kau bahkan sudah merasa terlalu kesal untuk sekedar berteriak kepada kawanmu untuk diam barang sejenak.

Kala kau memilih seseorang, dibanding jutaan orang berlawan gender denganmu.

Dan mengikatnya denganmu.

“Hei, kakak. Kita akan bertemu kembali disini kan? Janji?”

Kala sebuah janji menjadi setitik harapan terakhir saat kau tak lagi sanggup menemuinya, memeluknya, menenangkannya saat ia menangis. Dan disaat itu terjadi, dua orang insan akan berharap, berharap janji itu nyata. Angan yang terlalu jauh. Bahkan untuk sebuah ikatan tipis yang tak henti-hentinya menjelang pudar dan kembali terlihat.

Tak ada ikatan yang tak kuat.

Hanya saja, masihkan kedua insan itu menunggu?

Masihkah keduanya berharap? Atau mungkin harapan itu terlalu mengakar kuat di dalam diri sehingga mereka bahkan tak tahu caranya melupakan barang sejenak?

“Kakak.. aku rindu.”

.

.

.

tsuzuku

 
Leave a comment

Posted by on September 1, 2012 in Fanfiction, Stressed Mind, Uncategorized

 

Under The Breezy Wind

Jingga senja mulai memenuhi langit biru cerah musim panas ini. Lentera-lentera lampu mulai menyala, menerangi kota bagai disihir dengan cahaya warna-warni yang menghangatkan hati. Angin sejuk sesekali berhembus pelan meniup rambutmu ketika duduk di bangku di bawah pohon akasia itu.

Kamu menunduk, sesekali mencengkeram pinggiran bangku dengan tangan pucat mungilmu. Kamu mengangkat wajahmu, menengok samping kanan dan kiri–nihil. Tak ada siapapun kecuali dirimu. Lagi, kamu menunduk. Menunduk dalam-dalam sambil menghela nafas panjang.

Kamu bertahan disana. Sendiri dan kesepian, berharap seseorang mau datang dan berbincang denganmu. Kamu mengela nafas lagi. Tidak ada yang melirikkan pandangannya ke tempatmu duduk. Kamu mengambil novelmu dari dalam tas abu-abu yang setia menemanimu sedari tadi. Kamu membaca halamannya satu per satu diiringi gemerisik dedaunan yang tertiup angin. Sesekali kamu menyibakkan anak rambut yang jatuh ke wajahmu, menghalangi konsentrasi membacamu.

Padahal kamu sendiri tahu, kamu melakukannya untuk mengusir kesepian tak bertepimu.

Lagi-lagi kamu menghela nafas panjang.

Mendadak, punggungmu menegak mendengar suara khas langkah kaki mendekat padamu. Kamu menolehkan kepalamu, berusaha mencari sumber suara langka itu. Kamu menemukannya.

Seorang pemuda yang terlihat seusia denganmu dengan rambut pendek acak-acakan dan seragam tak rapi melangkah ke arahmu. Kamu sedikit ketakutan merasakan auranya yang gelap–tak ramah. Kamu mencoba mengabaikannya. Kau buka kembali novel yang entah kapan sudah kau tutup itu. Gugup, kamu memaksakan diri membaca–ah, bukan–melihat kalimat-kalimat manis disana.

Kamu sepenuhnya menyadari, tatapan pemuda tadi mengarah padamu.

Dan kamu sepenuhnya menyadari, ketika pemuda itu mengucapkan–

“Hai! Kau senang duduk-duduk disini waktu sore begini ya?”

–salam ramah namun straight foward padamu.

Kamu mengangkat kepalamu dari novelmu dan menatapnya. Beberapa detik kamu terpaku, sebelum akhirnya kamu tersenyum hangat pada pemuda itu. Ia membalas senyummu–hangat. Jauh berbeda dari kesan urakan yang ditimbulkan oleh penampilannya. Ia menghempaskan dirinya, ikut duduk di bangku yang sama denganmu. Sejenak matamu melebar, menyadari kamu duduk bersama seorang laki-laki di taman–hanya berdua. Pertama kalinya rona merah muda menyeruak di antara tulang pipimu. Kamu menundukkan wajahmu–malu.

Sementara itu, pemuda di sebelahmu tengah memandang awan berarakan di langit sana. Tak lama berselang, matanya terpejam seiring hembusan angin mulai bertiup ringan, membuat rambutnya makin teracak tidak karuan–terlalu berantakan. Kamu tersentak ketika pemuda itu membuka matanya dan mendadak menatapmu yang terpesona–dan memandangnya sedari tadi, tentu saja.

Wajahmu kembali memerah.

Tsuzuku

 
Leave a comment

Posted by on September 3, 2011 in Fanfiction

 

Untitled Mood

Iseng, tadi Cact obrak-abrik koleksi foto dan video di Lappy-chan. Lumayanlah, nemu folder isinya foto-foto masa SMP teman-teman tersayang. Well, cuma teman-teman sih, Cact ‘kan jarang banget ikut event-event bikinan temen-temen seperti: makan-makan di resto, jalan-jalan ke telaga/air terjun, dan sebagainya.

Tapi, nih, paling ngga Cact selalu dapet arsip-arsip foto mereka. *peluk foto temen-temen*

Sampai akhirnya, folder terbaru, Graduation. ^o^ Momen puncak yang ditunggu-tunggu semua siswa. Mengharukan lihat foto-foto temen.

Baru kemudian Cact nyadar, “Lho? Cact mana? kok dikit banget fotonya?” kelewat narsisnya kumat deh—ah, ngga juga. Memang sedikit banget fotonya Cact disana. Hanya satu atau dua.

Untunglah, hari ini Paralia pinjemin FD-nya dia ke Cact. Yey~ Akhirnya bisa lihat-lihat foto-foto Cact yang-astaga-agak-keterlaluan narsisnya. ๐Ÿ˜€

Ah… rasanya bernostalgia sekali, melihat bangunan sekolah lewat foto. Patung Lonceng depan sekolah, papan 9 K (hahaha..), kelas MORFIN 7,8, dan 9 ๐Ÿ˜ฅ (Ya ampuun.. mendadak Cact kangen sekali dengan anak-anak MORFIN) dan juga foto-foto di atap sekolah.

Menyenangkan ๐Ÿ™‚

Ah.. nampaknya hari sudah terlalu larut malam. Cact harus segera tidur agar bisa bangun untuk sahur besok. Yah.. meski belom sempat chat dengan cowo-nya Cact sih.

Anyway, Cact melambaikan tangan pada semuanya, bersiap menarik selimut dan tidur.

“I love you a lot, Kiki-kun :)”

 
Leave a comment

Posted by on August 18, 2011 in Diary, Photos

 

Tags: , , ,

Yellow Flower

Hey..

Aku disini. Aku disini. Ingin kukatakan itu padamu terus menerus. Tak peduli kau nanti bosan mendengarnya. Tak peduli kau merasa terganggu.

Tapi percuma. Tidak mungkin aku mengatakannya seperti dahulu.

Hey, sadarkah kau, berpuluh kali kuletakkan mawar kuning di mejamu? Pernahkah sekalipun kau menyadarinya?

Kau hanya tersenyum ketika aku meletakkan mawar merah untukmu. Hey, lihatlah kelopak-kelopak mawar merah disana! Mulai berguguran satu per satu karena kau lupa menjaganya. Pudar.

Warna kuning nampaknya menjadi khas kita.

Aku telah meletakkan untukmu mawar kuning. Kau tak menggubrisnya.

Aku memberimu sebuket tulip kuning, kau pun meremehkannya. Hey!

Angin bulan Agustus tahun ini dingin. Menyesakkan ulu hatiku yang memang rapuh ini. Hey.. Masihkah kau menghiraukan aku?

Sampai akhirnya anyelir kuning.. aku bahkan tak tahu harus mengatakan apa jika kau mengatakan sesuatu setelah aku memberikanmu ini.

Tidak. Bukan ini yang kuinginkan.

Perih.

Bukan aku yang ingin mengakhiri semua ini, tapi karena kau–dirimu yang dulu tak lagi berjalan bersamaku.

 
Leave a comment

Posted by on August 18, 2011 in Burden, Diary, Drama, Fanfiction

 

Menunggumu, Yang Duduk di Bawah Pohon Itu

‘Hei! Lihatlah aku disini!’

Sepotong kalimat itu benar-benar ingin kuteriakkan pada sosok pemuda yang jauh disana, duduk di bawah sebatang pohon sakura. Masih dengan mata ragu, aku menatapnya–mencoba mencari setitik harapan di mata onix-nya yang tajam itu. Angin berhembus pelan, menerbangkan kelopak-kelopak sakura yang indah itu. Beruntung sekali ya, mereka. Terbang bersama dengan kelopak-kelopak cerah di bawah sinar matahari yang cerah—meski tak terik, bersama.

Ugh..

Kurasakan hatiku berdenyut nyeri, melihat sosok itu berdiri dan menjauh. Ah, tidak. Bukan itu. Tangan kirinya digamit oleh seorang gadis penuh senyuman. Kenapa ia pergi dengannya? Kekasihnya kah? Mengapa aku tidak tahu, padahal aku selalu melihatnya dari jauh?

‘Hei! Aku disini!’

Tetap saja, kalimat itu terpaku rapat di memoriku. Tapi mulutku selalu saja enggan meneriakkannya. Aku menunduk, menyadari bahwa ia tak mungkin menyadari keberadaanku disini, selalu berakhir begini. Bunga sakura terus menerus berjatuhan, ia dan teman-temannya menjadi saksi bisu ketika seorang dengan raut wajah terluka memalingkan diri dan berjalan berlawanan arah dengan pemuda yang diamatinya tadi. Ya, sosok itu aku.

Mungkinkah, suatu saat ia menyadari perasaanku padanya?

Mungkinkah, suatu saat ia membalas perasaanku?

Ah.. rasanya tidak. Kami begitu jauh. Ia terlampau jauh, tak tergapai olehku. Tak tercapai, terlalu jauh–ya, kukatakan itu sekali lagi.

Panas matahari menyengat. Pantai-pantai mendeburkan ombaknya, menjadi tempat berlibur yang menyenangkan. Jalanan tempat biasa aku lewat sungguh gersang. Debu-debu berterbangan membuat pernafasanku kacau, sesak. Tak terasa musim panas sudah mencapai pertengahan. Tak banyak yang berubah. Atau bahkan mungkin tidak ada. Pemuda itu, masih sering di sana. Di bawah pohon sakura yang bahkan sudah gugur semua bunganya. Ah, lagi-lagi aku hanya bisa melihat dari jauh. Selalu begini, selalu tak pernah berani melihatnya dari dekat.

‘Hei! Lihat! Aku disini!’

Aku menggigit bibir bagian dalamku. Miris. Sekali lagi, aku harus puas meliriknya dari kejauhan. Aku meringis, rasanya sesak sekali dada ini menahan perasaanku. Kulihat dari ekor mataku, ia berdiri. Gadisnya telah mengulurkan tangan padanya–dan ia menerimanya. Angin semilir. Kurasakan diriku mulai hancur, terluka. Aku mendesis.

Ugh..

Aku berbalik, cukup sampai disini pemandangan yang kulihat tadi. Perih. Kupejamkan mataku kuat-kuat.

Sampai akhirnya kusadari sesuatu.

Air mataku sudah mulai merembes.

 
Leave a comment

Posted by on August 11, 2011 in Drama, Fanfiction

 

Tags: , , ,

ARGH! This is Frustrating

Duh. Aku kembali menatap layar laptop kesayanganku ini dengan pandangan bodoh. Ya, aku sudah bertanya pada Kuko-chan tentang PR yang diberikan guru hari Sabtu lalu. Pasalnya aku tidak masuk sekolah waktu itu, dan mau tak mau harus menanyakan PRnya yang mana. Jemariku mengetik lagi.

APAAA???!! PRnya sebanyak itu? Yang benar saja, hey!

Matematika, Kimia, Biologi dan tambahan pribadi, Seni Budaya.

Oh tidaaaaaak! Argh! Keinginanku bermalas-malasan hari Minggu ini nampaknya mulai memudar sedikit demi sedikit. Mengesalkan.

Dari dapur kudengar teriakan Mam, “Cepat urusi baju-bajumu dan cuci!”

Rasanya lemas sekali tubuh ini seketika itu. Ah. lebih baik aku mencoba mengerjakan PR terlebih dulu. Bisa gawat kalo terlambat mengerjakan apalagi sampai tak bisa mengumpulkan. Oke, pertanyaan pertama..

EH??!! Apa ini?

‘Jelaskan teknik mutasi buatan!’

hah? Itu… aku belum dijelaskan soal itu! Yang benar saja!

Yang benar saja! Yang benar saja! PR lain pun bernada serupa.

ARGH! Aku tak tahu lagi nasib pagiku yang awalnya sempurna ini…

 
Leave a comment

Posted by on August 7, 2011 in Diary, Fanfiction, Stressed Mind

 

Tags: , ,

Another Story : Faith [pt. 3]

Senja makin turun, sementara itu masih ada seorang paramedis yang tetap tinggal diruangannya meskipun rekan-rekannya sudah beranjak pulang termasuk Shishou-nya. Ia masih terpikir dengan ingatannya tadi. Rasanya seperti kembali ke masa lalu setelah semua yang terjadi. Ia tersenyum ketika mengeluarkan selembar foto dan menatapnya. Sungguh, apapun yang ada di dunia ini tidak bisa ditebak. Tapi, mengingat kenyataan pahit itu, ia cuma bisa menunduk dalam-dalam sembari terus mencegah air matanya agar tidak keluar lagi. Ia merasakan sakit, sakit yang amat menusuk ulu hatinya. Sakit yang terus dan selalu menyerangnya tiap kali ia mengingat hal itu. Terlalu menyedihkan memang, namun ia nyaris selalu bersemu merah tiap kali menangis, menangisi dia yang tidak kunjung memberi jawaban atas pertanyaannya yang sederhana namun agaknya sulit dijawab di masa lalu. Tapi masalahnya bukan itu, ia hanya menginginkan dia pulang. Bahkan dia tidak peduli kalau harus kehilangan dia. Paling tidak, yang diinginkannya, ia bisa melihat wajah yang sudah memikat hatinya itu, sekali lagi atau berkali-kali lagi.

Hatinya mendadak resah setelah menelusuri foto lama mereka. Bagaimana keadaannya sekarang?

Hey, can you hear it? Memories are wandering around…
Hey, trust the heart as long as we live!
Even if the world we live in is different…
As long as thereโ€™s something to protect…
For whom do you reach out your right hand for?

Fin

 
Leave a comment

Posted by on August 4, 2011 in Fanfiction

 

Tags: , , ,